Bercak cinta (2)
Aku menimang-nimang tali yang kudapat dari tong sampah depan rumah. Tali rafiah berwarna merah. Aku mulai cemas dengan tindakanku ini, tapi sekali lagi tubuh bagai tersihir bergerak sendiri tak kuat menahan siksa perih oleh cinta yang pilih kasih. Ku mendongak keatas, berputar, mencari sandaran untuk tali yang telah kusiapkan.
Tak terasa sudah tiga jam aku terus berputar-putar berkeliling apartemenku yang atapnya polos dengan plafon dari semen. Terang saja tak ada tempat untuk menggantungkan tali rafiahku. Lebih tepatnya aku hanya mondar-mandir dengan keraguan untuk melaksanakan niatku. Sebenarnya kalau memang mau serius bukan hanya tali media yang bisa direkomendasikan. Pisau yang bisa memotong urat nadi ada di dapur, obat nyamuk cair bisa diminum tersedia di rak lemari, letak apartemenku di lantai lima cukup untuk memecahkan tengkorak kepala, kereta api express lewat setiap hari, atau jembatan dengan sungai yang cukup dalam tidak jauh dari sini. Walaupun belum pernah ku mencobanya tapi itulah yang diajarkan pendahuluku untuk mengakhiri hidup mereka.
Sepertinya masih ada bagian tubuhku yang menolak untuk eksekusi, perang batin berkecamuk, menusuk-nusuk, menangkis, menyerang dan menghindar. Sangat ramai kalau di visualisasikan. Tubuh lelah mata mengantuk, kemudian kurebahkan tubuhku, kecapean dan tertidur. zzzz
****
pagi ini aku memaksa keluar kamar untuk refresh pikiran agar bisa lebih jernih. Aku teringat cerita ketika masih di sekolah, Kisah orang yang mati belum waktunya dengan memutuskan nyawa oleh tangan sendiri, oh betapa sengsaranya arwah gentanyangan tak diterima kubur dan dipastikan neraka menunggu di akhir waktu. Kisah itu menyadarkanku agar tak meneruskan rencana gilaku. Dan memang konyol dengan alasan apapun, daripada mati di tangan sendiri, Lebih baik mati ditangan orang apalagi bisa berguna untuk orang lain. Kuperhatikan sepanjang jalan, kali aja ada orang menyebrang yang mau tertabrak mobil maka aku akan mendorongnya dan kuganti dengan tubuhku. Oh tidak.. aku berkhayal yang tidak-tidak lagi.
Kuingat-ingat kembali bagaimana pertemuanku dengan wanita yang menyebabkanku mengalami penderitaan cinta si patkai. namanya enny, wajahnya cantik meski tanpa make up, mahasiswa cerdas dan pintar, kaya dan berwibawa, aku yakin dia juga jadi incaran orang sepertiku bahkan diatasku atau bahkan sudah dimiliki orang. Sungguh tipe wanita ideal dikelasnya. she's so perfect. Dia setara dengan artis telivisi hanya saja belum dikenal produser. Sebenarnya sudah sering aku melihat wanita yang secantik enny, ya di televisi itu.
Tidak realistis tipe wanita yang ku idamkan, terlalu high class sementara aku yang tergolong buntut class. Justru itu alasan kuatku kenapa aku berusaha menjauhi cinta temannya narkoba, sama-sama memabukkan dan berbahaya, sulit mendapatkannya dan selalu membuat ketagihan bagi yang pernah merasakannya. Lagi pula aku juga takkan pernah jatuh cinta kalau tidak mengenalnya.
Gara-gara aku mencoba menolong ketika dia sedang digoda oleh pemuda yang sedang mabuk. Sebenarnya aku tak murni ingin menolongnya juga sih, karena kebetulan pemabuk itu adalah orang yang sering mengganguku dan suka minta jatah uang untuk beli minuman, sementara aku tak bisa berbuat apa-apa sebab dia selalu bersama teman geng nya.
Suatu kebetulan, dendam lama muncul bersamaan kesempatan parasit sialan itu sedang tak bersama temannya dalam keadaan mabuk pula. aku mengincarnya pelan-pelan dari belakang, sedangkan dia sibuk menggoda enny yang terus meronta. Kuangkat tasku yang berisi macam-macam barang yang lumayan keras untuk menghajarnya. Waktu itu benar-benar menegangkan, dengan sekejap darahku memanas serasa iblis telah merasuki tubuh, belum pernah kurasakan hawa pembunuh sedahsyat ini. sekuat tenaga kuhantamkan tas bawaanku ke arah kepalanya sebanyak tiga kali, aku bener-benar menikmati tiap-tiap pukulannya tanpa memikirkan isi tasku yang akhirnya akan ku sesali nantinya.
Tiga kali pukulan pemuda itu roboh dan botol minumannya terpental keras dengan suara pecahan yang tak asing ditelinga. Pemuda itu mencoba bangkit lagi sementara nafasku agak tersengal-sengal karna pukulan yang kulayangkan terlalu kuat dan menguras tenaga, tapi pemuda itu seakan tak menunjukkan rasa sakit sedikitpun hanya wajah blo'onnya yang menyeringai karena pengaruh minuman setannya.
Melihat situasi itu aku memilih untuk kabur, karena tak mungkin aku adu kekuatan menghadapinya, bisa-bisa dia mengenaliku dan membawa pasukannya untuk membinasakanku. Kutarik tangan enny yang masih terbengong dengan ulahku kemudian kabur meninggalkan TKP untuk menghindari hal buruk lainnya.
Sampai di tempat yang aman kami beristirahat setelah melakukan langkah seribu melarikan diri dari kejaran musuh, meski aku tak yakin apakah dia mengejarku atau tidak. Senyum puas mengembang atas kemenanganku pertama kali melawan tukang mabuk, menyerangnya dari belakang dan buru-buru kabur sebelum musuh mengatakan kata menyerah, memang tidak jantan tapi emangnya gue pikirin.
Di tengah-tengah kesibukanku mengatur nafas yang terputus-putus, wanita itu mengucapkan terima kasih dan mengenalkan diri dengan nama Enny Rastiani. Sungguh seakan aku telah jadi pahlawan waktu itu.
"Tapi seharusnya tak perlu bertindak sejauh itu kan?", belum puas hati melayang keburu jatuh dengan ucapan bernada seakan mau bilang aku tadi bisa mengatasinya sendiri tanpa bantuanmu. Sungguh tidak menghargai usaha setengah mati perjuanganku. Tapi kupikir-pikir lagi memang tak seharusnya tidak dengan pukulan buta hanya untuk menolongnya lepas dari gangguan pemabuk tak berdaya itu. Tidak, aku hanya ingin melampiaskan kemarahanku saja, lagi pula siapa yang mau menolongmu dasar wanita sombong tak tahu berterima kasih, hampir saja kata-kata itu keluar kalau bukan karena nafasku yang masih berkejaran.
Aku hanya diam tak menanggapi ucapannya, karna sedikit tersinggung ku tinggalkan Enny begitu saja. Dan sudah menjadi kebiasaanku bersikap dingin terhadap wanita, demi menjalankan komitmenku stay away from women and love.
Belum jauh ku melangkah Enny mengejarku dan meminta maaf atas ucapannya tadi, rupanya dia sadar telah membuatku tersinggung, tapi sedikit, dan sekali lagi aku merasa menang dengan dia meminta maaf.
Dari situlah aku bertemu dan mengenalnya dengan baik. Tanpa terasa aku makin akrab dengannya sebab dia sering berkunjung ketempatku. Dihitung-hitung baru kali ini aku memiliki teman sebaik dan seramah Enny, yang membuatku sedikit kagum adalah kekebalannya dalam menghadapi orang yang sedingin dan secuek aku.
Dia selalu memberikan perhatiannya untukku Aku merasa betah berlama-lama dengan dia meski tak kutunjukkan sikap ramahku . Dan sisi lain dari diriku pun sering kali menyuruhku menjauh darinya sebelum perasaan suka benar-benar tumbuh. Aku tahu kami jauh berbeda, selama ini aku selalu berusaha menganggap hubungan ini hanya sebatas teman atau hanya karena kasihan.
Dan benar rupanya, hanya masalah waktu akhirnya dia pergi, tidak lagi muncul di hadapanku.Tanpa sempat mengantisipasi, sebab terlena oleh pengalaman yang belum pernah menghampiriku selama ini. ku nodai komitmen yang susah payah kubangun demi menjaga diriku dari virus cinta. Apakah Enny yang terlalu kejam dengan mudahnya mendekati dan meninggalkanku tanpa mengerti perasaanku. Ataukah aku yang terlalu sembrono membiarkannya hadir di tengah dunia sempit penuh ilusi dalam hidupku.
Dan sekarang sudah hampir satu bulan dia tak pernah memberiku kabar dan parahnya aku tak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku masih berharap padanya. Yang membuatku lebih sakit bahwa harapan itu jelas jelas kosong untukku. Aku merasa dikhianati meski tak pernah ada janji yang terucap. Aku lebih sering menyalahkan diri sendiri atas kelemahan dan kebodohanku. Baik karena telah bertemu dengan Enny atau karena tak pernah menolak ajakannya untuk berteman.
Bagaimana aku harus menyebutnya, sebuah kenangan indah, ataukah penyesalan sebagai pelajaran?.
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Senin, 01 Desember 2008
Kamis, 06 November 2008
Bercak cinta
Uuuh… betapa tidak menyenangkan berurusan dengan penyakit cinta, aku bahkan tak percaya penyakit itu mampu menjangkitiku. Memalukan dan meresahkan, bagaimana tidak? hampir seluruh aktivitasku mulai makan belajar dan pekerjaanku jadi berantakan gara-gara itu, padahal sebelumnya aku sudah mewanti-wanti pada diriku untuk tidak mendekati permasalahan seputar cin… ah apa itu, bahkan aku masih berat untuk mengatakan itu.
Salah satunya dengan menjadi otaku tulen, aku sudah mulai menikmati ruang kecilku untuk segala aktivitas, selain mandi ama beol tentunya. Tak pernah ku bersosialisasi bertemu dengan orang-orang lebih dari satu jam setiap harinya, terutama wanita dan sepertinya mind-setku sudah terprogram kuat untuk tidak mendekati makhluk itu. Bukannya benci atau jijik, hanya saja aku memang takut terperangkap dalam masalah cin…ehem, karna aku belum siap dan sepertinya tak akan pernah siap.
Kenapa bisa begitu, padahal aku belum pernah mengalaminya?. Oh kalo pake hitungan mungkin susah, kupikir sudah banyak contohnya bagaimana kelakuan dan kegilaan yang dilakukan para pencari cinta. Aku bahkan tak habis pikir, cinta ditolak dukun bertindak, belum lagi mau-maunya bertingkah konyol persis orang blo'on untuk mendapatkannya, bisa menjual harga diri bahkan membunuh orang. Yang paling sadis kok mau, orang bunuh diri karna cin…takh.
Karna itulah kenapa aku enggan mendekatinya, sepertinya mengerikan dan membahayakan, sudah cukup kisah-kisah menyedihkan mengajariku. Meski tak sedikit pula cerita tentang keindahan cinta dan segala kedahsyatannya dalam mempengaruhi hidup manusia. Tapi aku tak mau bertaruh, bisa saja aku masuk ke deretan orang gila yang mengikat lehernya sendiri karna cinta, oooh tidak itu sangt mengerikan bahkan membayangkannya pun aku tak sanggup.
Pesimis? Memang iya tapi bukannya tak beralasan, tidakkah kau tahu cinta penuh dengan pengorbanan dan modal tentu saja. Kalo tak bisa beli cinta dengan harta dan kekuasan, maka harus bermodal tampang atau paling tidak pintar dan cerdas walaupun hanya pintar ngegombal, itu yang dikatakan resep jitu mencari cinta. Dari sekian macam modal yang bisa untuk mendapatkan cinta tak satupun kriteria yang nyangkut dalam diriku, kecuali nasib.
Jadi tak berlebihan kalo kubilang cinta bakal enggan menghampiriku. Aku pesimis dengan cinta karna memang pantas untuk pesimis. Bagaimana tidak? Dilihat dari materi jangankan uang bertumpuk pekerjaan saja tidak tetap. Apalagi tampang dibawah pas-pasan, kurang gaul, eh boro boro, kenalan sama cewek aja bisa dihitung dengan jari. Masalah kecerdasan sebenarnya aku cukup pintar, hanya saja belum ada orang yang mau mengakui kepintaranku. (pinter ngayal). Hanya nasib saja harapan terakhir yang mungkin trjadi, tiba-tiba ada cewek cakep, pinter, kaya dan alergi sama cowok berkriteria ideal dan tanpa disuruh dia udah cinta mati sama aku, tuh kan berkhayal lagi.
Tentu saja aku takut, kenyataan bahwa meski aku tak mau mengenal cinta, tapi api cinta dengan mudah tersulut dalam dada, keinginan untuk dekat dan bersama dengan wanita perlahan menggerogoti tulang sendi menyelinap disetiap rongga tubuh lemahku ini. Rindu dan cemburu menyayat dan melukai seluruh raga.
Didukung dengan keahlian berkhayalku cinta dengan mudah mencabik cabik komitmen dan permusuhanku dengannya, aku telah dikhianati oleh hati yang terus meronta-ronta tanpa perduli bagaimana pikiran jernihku susah payah menceramahi.
Kini aku semakin kurus, lemah, tak ada daya, tak bersemangat lagi untuk hidup. Sambil terus memikirkan apa yang sedang kupikirkan.
Oh ternyata memang benar, sungguh menyakitkan serangan cinta yang tak bersambut, aku semakin mengerti kenapa orang bermodal, mati-matian untuk mendapatkannya. Aku jadi tahu apa yang dirasakan orang yang memilih bunuh diri karna cinta yang mengkhianati, aku sadar kenapa tiba-tiba tubuhku bergerak sendiri mencari seutas tali.
Oh… apakah ini pilihan terakhirku setelah virus cinta berhasil menyiksaku, menginjak injak akal sehatku, dan merobohkan tembok terakhir pertahananku.
Aku sudah hancur…..
By: mahfud
Salah satunya dengan menjadi otaku tulen, aku sudah mulai menikmati ruang kecilku untuk segala aktivitas, selain mandi ama beol tentunya. Tak pernah ku bersosialisasi bertemu dengan orang-orang lebih dari satu jam setiap harinya, terutama wanita dan sepertinya mind-setku sudah terprogram kuat untuk tidak mendekati makhluk itu. Bukannya benci atau jijik, hanya saja aku memang takut terperangkap dalam masalah cin…ehem, karna aku belum siap dan sepertinya tak akan pernah siap.
Kenapa bisa begitu, padahal aku belum pernah mengalaminya?. Oh kalo pake hitungan mungkin susah, kupikir sudah banyak contohnya bagaimana kelakuan dan kegilaan yang dilakukan para pencari cinta. Aku bahkan tak habis pikir, cinta ditolak dukun bertindak, belum lagi mau-maunya bertingkah konyol persis orang blo'on untuk mendapatkannya, bisa menjual harga diri bahkan membunuh orang. Yang paling sadis kok mau, orang bunuh diri karna cin…takh.
Karna itulah kenapa aku enggan mendekatinya, sepertinya mengerikan dan membahayakan, sudah cukup kisah-kisah menyedihkan mengajariku. Meski tak sedikit pula cerita tentang keindahan cinta dan segala kedahsyatannya dalam mempengaruhi hidup manusia. Tapi aku tak mau bertaruh, bisa saja aku masuk ke deretan orang gila yang mengikat lehernya sendiri karna cinta, oooh tidak itu sangt mengerikan bahkan membayangkannya pun aku tak sanggup.
Pesimis? Memang iya tapi bukannya tak beralasan, tidakkah kau tahu cinta penuh dengan pengorbanan dan modal tentu saja. Kalo tak bisa beli cinta dengan harta dan kekuasan, maka harus bermodal tampang atau paling tidak pintar dan cerdas walaupun hanya pintar ngegombal, itu yang dikatakan resep jitu mencari cinta. Dari sekian macam modal yang bisa untuk mendapatkan cinta tak satupun kriteria yang nyangkut dalam diriku, kecuali nasib.
Jadi tak berlebihan kalo kubilang cinta bakal enggan menghampiriku. Aku pesimis dengan cinta karna memang pantas untuk pesimis. Bagaimana tidak? Dilihat dari materi jangankan uang bertumpuk pekerjaan saja tidak tetap. Apalagi tampang dibawah pas-pasan, kurang gaul, eh boro boro, kenalan sama cewek aja bisa dihitung dengan jari. Masalah kecerdasan sebenarnya aku cukup pintar, hanya saja belum ada orang yang mau mengakui kepintaranku. (pinter ngayal). Hanya nasib saja harapan terakhir yang mungkin trjadi, tiba-tiba ada cewek cakep, pinter, kaya dan alergi sama cowok berkriteria ideal dan tanpa disuruh dia udah cinta mati sama aku, tuh kan berkhayal lagi.
Tentu saja aku takut, kenyataan bahwa meski aku tak mau mengenal cinta, tapi api cinta dengan mudah tersulut dalam dada, keinginan untuk dekat dan bersama dengan wanita perlahan menggerogoti tulang sendi menyelinap disetiap rongga tubuh lemahku ini. Rindu dan cemburu menyayat dan melukai seluruh raga.
Didukung dengan keahlian berkhayalku cinta dengan mudah mencabik cabik komitmen dan permusuhanku dengannya, aku telah dikhianati oleh hati yang terus meronta-ronta tanpa perduli bagaimana pikiran jernihku susah payah menceramahi.
Kini aku semakin kurus, lemah, tak ada daya, tak bersemangat lagi untuk hidup. Sambil terus memikirkan apa yang sedang kupikirkan.
Oh ternyata memang benar, sungguh menyakitkan serangan cinta yang tak bersambut, aku semakin mengerti kenapa orang bermodal, mati-matian untuk mendapatkannya. Aku jadi tahu apa yang dirasakan orang yang memilih bunuh diri karna cinta yang mengkhianati, aku sadar kenapa tiba-tiba tubuhku bergerak sendiri mencari seutas tali.
Oh… apakah ini pilihan terakhirku setelah virus cinta berhasil menyiksaku, menginjak injak akal sehatku, dan merobohkan tembok terakhir pertahananku.
Aku sudah hancur…..
By: mahfud
Langganan:
Postingan (Atom)